Anak sudah bisa diajarkan membaca pada usia 3 tahun lebih, atau tergantung kemandirian si anak juga. Mengajar anak-anak itu tantanganya cukup berat, karena anak usia preschool itu konsentrasinya sangat pendek. Umumnya bisa dipastikan dengan mengalikan umurnya dengan angka 5. jadi kalau usianya 3 tahun kalikan 5 adalah 15, konsentrasi si anak dalam belajar hanya 15 menit. Untuk itu, kegiatan belajar harus dirancang dengan fun dan menarik sehingga anak tidak bosan.
               Figure 1: Design of “Bijak Membaca”  Figure 2 depicts the contents of the interactive multimedia application that applies learning strategies which are the Phonic Reading Technique and Multisensory Approach.                     Figure 2.  Adaptation of Learning Strategies  Researchers incorporate the first module with the Phonic Reading Technique, which involves letters, syllables, words, and sentences. Dyslexics have a few critical letters that they are confused with. These critical letters are b, d, m, n, p, q, u, and w [20]. Dyslexics are usually confused with small letters, and therefore a decision is made to integrate a letter with a picture to ensure that they recognize the letter. In the example of the interface design shown in Figure 3, each letter is provided with the letter-sound using the Phonic Reading Technique and embedded with video that shows the pronunciation technique.  By using a pointing device, dyslexics can just move over the lettered object to hear the phonic pronunciation. Besides that, the embedded video of each letter can be repetitively played to practice the pronunciation technique. In some ways, it shows that the Multisensory Approach is also applied with the linking of eyes, ears, voice, and hand movements [6].                Figure 3.  Letter-sound using Phonic Reading technique interface design  As stated earlier in this section, there are three different types of exercises that apply the Multisensory Approach in the “Aktiviti” Module.  Firstly, pronouncing activity page (“Latihan Sebut”), helps the user to differentiate the correct pronunciation of each critical letter. Figure 4 shows the interface designs of different categories in “Latihan Sebut”, which are letter, syllable, and sentence. The user has to click on the letter and it navigates to the next screen with the presence of sound. By doing this activity, dyslexics link their sensory organs such as eyes, ears, and hand movements interactively.  The reason for developing this page is because dyslexics have problems with reading and recognizing letters.           Figure 4. Interface Designs of “Sebut” Activity  Secondly, drag and drop activity is chosen to give different interaction styles to dyslexics. The user needs to pick any letter provided and drag it to a correct place, based on the given picture (Figure 5). Besides drag and drop, the user can also click on the syllables to complete the task. These exercises are implemented by adapting the Multisensory Approach as the user needs to synchronize his hand movements by dragging the object to targeted areas with the coordination of his eyes.    2012 IEEE Colloquium on Humanities, Science & Engineering Research (CHUSER 2012), December 3-4, 2012, Kota Kinabalu,Sabah, Malaysia556

Some educators feel there are words that do not follow these phonics rules, such as were, who, and you.[12] They are often called "sight words" because they are memorized by sight with the whole language approach. These words should not be placed on a Word Wall to avoid confusion for a student learning beginning sounds. However, teachers of Synthetic phonics believe that most words are decodable and do not need to be memorized. For example, they point out that the word "were" is decodable because it contains two sounds, /w/-/er/. It is only necessary for the student to learn the various ways of spelling the sounds.[13]
Therefore, phonics instruction plays a key role in helping students comprehend text. It helps the student map sounds onto spellings, thus enabling them to decode words. Decoding words aids in the development of word recognition, which in turn increases reading fluency. Reading fluency improves reading comprehension because as students are no longer struggling with decoding words, they can concentrate on making meaning from the text.
We included studies that use randomisation, quasi‐randomisation, or minimisation to allocate participants to either a phonics intervention group (phonics alone, phonics and phoneme awareness training, or phonics and irregular word reading training) or a control group (no training or alternative training, such as maths). Participants were English‐speaking children, adolescents, or adults whose word reading was below the level expected for their age for no known reason (that is, they had adequate attention and no known physical, neurological, or psychological problems).
Later, international evaluations TIMSS and PISA showed a sharp improvement in all areas, namely literacy, from 2011/2012 to 2015, Portuguese students results raised to above OECD and IEA averages, attaining the best results ever for Portugal. A few analysts[65] explain these advances by some of the educational measures then put in place: the development of more demanding curricula, the emphasis on direct teaching, and explicit fluency training in reading and mathematics.
The spelling structures for some alphabetic languages, such as Spanish, Portuguese and specially Italian, are comparatively orthographically transparent, or orthographically shallow, because there is nearly a one-to-one correspondence between sounds and the letter patterns that represent them. English spelling is more complex, a deep orthography, partly because it attempts to represent the 40+ phonemes of the spoken language with an alphabet composed of only 26 letters (and no diacritics). As a result, two letters are often used together to represent distinct sounds, referred to as digraphs. For example, t and h placed side by side to represent either /θ/ or /ð/.
Selamat pagiii 🙂 Sambil sarapan (abis nulis sarapanne wis mari) haha 😅 Saya sharing salah satu hal yang paling sering ditanyakan adalah seputar kompos dari sampah organik.   Untuk yang belum tahu untuk apa sih kompos itu? 1. Mengembalikan tanaman 🥗🌮🥙dan hewan 🐂🐔🐓🐣🐤🐥🐦🐰yang sudah menyelesaikan fungsinya pada ekosistem kembali ke tanah (bayangkan kalau semua tanaman […]
Siapa yang tidak ingin anaknya jago ngomong Bahasa Inggris? Semua orang tua pasti menginginkannya bukan? Sekaraag ini, Bahasa Inggris sudah menjadi second language bagi anak-anak di kota besar sepertiJjakarta. Mereka terbiasa berbicara dalam bahasa inggris karna disekolah bahasa yang dipakai adalah Bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa (verbal) bisa didapat secara natural; yakni melalui mendengar dan praktek langsung. Namun, untuk kemampuan membaca diperlukan latihan dan pengajaran terhadap si anak. Intinya kemampuan membaca itu tidak bisa datang begitu saja.
In November 2010, a government white paper contained plans to train all primary school teachers in phonics.[38] In 2018, The Office for Standards in Education, Children’s Services and Skills (Ofsted), as part of its curriculum research has produced a YouTube video on Early Reading. It states "It is absolutely essential that every child master the phonic code as quickly as possible ... So, successful schools firstly teach phonics first, fast and furious." [39] 									

Link daftar : http://bit.ly/RBTMSsusulan Tau nggak kalau rumahmu itu kemungkinan besar adalah tempat paling toxic yang setiap harinya kamu harus berada disana? Udara di dalam rumah seringkali lebih beracun daripada udara di luar rumah. Bandingkan ketika kamu lama nggak keluar rumah dan begitu keluar rumah meski rumahmu di kota bagaimana rasanya? Terutama ketika keluar di […]

Jejak kehidupan kita seperti halnya jejak kaki kita di pasir pantai itu indah tapi selalu berbeda uniknya. ⠀⠀ #realita⠀⠀ By default, semua orang nggak musingin kita seperti apa, kecuali diri kita sendiri. Jika kelihatannya orang lain musingin kita, mikirin kita, ngomongin kita, tapi kenyataannya itu semua terlihat dan terdengar jauh lebih besar dari kenyataannya. Kenapa? Karena by default juga, NEGATIVITY itu JAUH LEBIH RIBUT lebih bikin NOISE dibanding POSITIVITY apalagi di dunia internet sekarang. Orang lain nggak pusing dengan perubahanmu. Terus kenapa kita pusingin mikirin dan bandingin dengan orang lain? ⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Mungkin kita merasa sangat terganggu melihat wanita lain disekeliling kita baik online ataupun di kehidupan nyata yang bisa kita lihat secara fisik, mereka membuat perubahan, terlihat lebih baik menjalani kehidupan mereka, membuat gebrakan dan terus bergerak maju, dan kita berpikir dan merasa, Kenapa kita bergerak ditempat saja? Nggak maju-maju, ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Mungkin kita mikir, ada yang salah deh dengan diri kita ini. Kenapa terlihat berbeda dari orang lain? Tapi kita sebenarnya tidak sadar kalau kita itu terus bergerak I ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Jangan diterusin mikir seperti ini.⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Berhenti sekarang juga💥!⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Perjalananmu menuju kamu yang lebih baik itu MashaAllah indah uniknya yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Nggak ada perjalanan manusia yang identik dan persis sama satu dengan lainnya. I tell you, It’s OKAY! 💟⠀⠀⠀⠀⠀ Yuk belajar bareng tuk membuat perjalanan Ramadan kali ini lebih UNIK INDAHNYA 💗 Info detail program: https://greenmommyshop.com/product/kursus-bersiap-ramadan/ Daftar untuk kursus Di link bio
In the first 60 lessons, all of Reading Eggs’ books are highly decodable, using words that have been introduced and reinforced by the lessons. The program responds to readers at their level of ability, making it possible for children to consistently read at their own individual level. This is extremely beneficial for their learning and overall confidence.
Metode kami yang menggabungkan Phonics dengan instruksi dasar dapat membantu anak-anak untuk belajar lebih cepat dan merasa percaya diri akan kemampuannya mereka dalam mengucapkan kata-kata. Kami menemukan bahwa semakin cepat sang anak belajar untuk membaca, semakin mereka merasakan bahwa proses membaca itu mudah dan menyenangkan, dimana hal tersebut akan membuat proses belajar seterusnya menjadi lebih mudah.

... Some studies incorporate phonics reading technique in their application. Created in Malay language, Ahmad, et al. [19] developed " Bijak Membaca " , an application for dyslexic children which applies Phonic Reading Technique and multisensory approach with interactive multimedia, such as text, graphics, video, and animation. Evaluated using Heuristic approach, this application is considered success in integrating all of learning strategies mentioned before. ...
Manfaat lainnya dari menggunakan metode fonik untuk mengajarkan membaca Bahasa Inggris adalah metode ini mempermudah anak Anda untuk mendengar dan memanipulasi bunyi dalam kata-kata yang diucapkan sehingga anak Anda akan lebih mudah membaca kata-kata Bahasa Inggris. Contohnya, Anda bisa menggantikan bunyi huruf c dari kata ‘cake’ menjadi bunyi huruf t dari kata ‘take’. Kedua kata tersebut memiliki bunyi akhir yang sama. Yang membedakannya adalah bunyi awal.

We found 11 studies that met the criteria for this review. They involved 736 participants. We measured the effect of phonics training on eight outcomes. The amount of evidence for each outcome varied considerably, ranging from 10 studies for word reading accuracy to one study for nonword reading fluency. The effect sizes for the outcomes were: word reading accuracy standardised mean difference (SMD) 0.47 (95% confidence interval (CI) 0.06 to 0.88; 10 studies), nonword reading accuracy SMD 0.76 (95% CI 0.25 to 1.27; eight studies), word reading fluency SMD ‐0.51 (95% CI ‐1.14 to 0.13; two studies), reading comprehension SMD 0.14 (95% CI ‐0.46 to 0.74; three studies), spelling SMD 0.36 (95% CI ‐0.27 to 1.00; two studies), letter‐sound knowledge SMD 0.35 (95% CI 0.04 to 0.65; three studies), and phonological output SMD 0.38 (95% ‐0.04 to 0.80; four studies). There was one result in a negative direction for nonword reading fluency SMD 0.38 (95% CI ‐0.55 to 1.32; one study), though this was not statistically significant.
TAHUKAH AYAH BUNDA...?? MENANAMKAN TANGGUNG JAWAB PADA ANAK BISA PAKAI CARA YANG MENYENANGKAN LHO... 😘 Emak2 itu suka dilema, dan kadang mengambil keputusan buruk karena tidak mau ambil resiko. Contoh nih kalo liat kerjaan rumah yang numpuk belum lagi berantakan dimana2, eh tiba2 anak2 mau bantuin tuh bikin dilema banget. Gimana ngga? Klo anak2 ikut bantuin mereka bisa sekalian belajar tp nantinya bukannya cepet selesai malah tambah lama dan kurang oke hasilnya. Padahal perbuatan semacam itu, bikin anak2 malah akhirnya malas membantu. Karena sering dilarang sih. Sebenarnya ga masalah loh bun klo anak2 mencoba membantu kegiatan sehari2. Karena secara tidak langsung kita mengajarkan anak tanggung jawab sejak dini agar terbiasa sampai dewasa nanti. 😉 Cara mengajarkan anak tanggung jawab dan disiplin tidaklah rumit, asalkan orang tua memiliki trik yg menarik untuk mengajak mereka memulainya dalam keseharian di rumah seperti merapikan mainan, menaruh piring makannya ke meja, memakai baju sendiri dsb. Salah satu contoh trik menanamkan rasa tanggung jawab bisa dicoba dengan bermain abaca loh! Koq bisa?🤔 Bisa, caranya saat selesai bermain berikan contoh pada anak bagaimana cara bunda membereskan kartu Abaca sesuai Warna pada box, "liat ya nak, bunda bisa sulap bikin semuanya jadi rapi!". Selanjutnya ajak anak ikut merapikan kartu bersama "waduh gawat nih, ada badai menerjang! Ayo nak bantu bunda mengumpulkan kartu yg merah!" dan terakhir motivasi anak untuk mencoba sendiri membereskan kartu yg telah dimainkan " wah, anak mama hebat, ternyata bisa ngerapihin kartunya" 😍 Memberikan tanggung jawab pada anak2 untuk merapikan mainannya sendiri mungkin terlihat sepele bagi kita, tapi sebuah prestasi luarbiasa bagi anak jika mereka bisa melakukannya. ✨💧Berikut tips agar anak mudah belajar melakukan kegiatan sehari2💧✨ 1. Berikan contoh terlebih dahulu dan anak melihat. 2. Lakukan bersama. 3. Biarkan anak yg melakukan dan kita mengawasi. Saat anak mencoba sendiri hasilnya memang tidak akan sebagus yg Bunda lakukan, wajar saja karena mereka baru belajar. Akan tetapi jika anak2 diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk mencobanya, kedepannya mereka akan mel
Jika Anda benar-benar tertarik untuk membantu anak Anda mengembangkan keterampilan yang paling penting dalam kehidupan dan Anda ingin membantu anak-anak Anda berkembang dengan maksimal, maka Anda berhutang pada diri Anda dan anak Anda untuk mencoba program Pembelajaran Anak-anak. Mayoritas orang di dunia ini mencari "jalan cepat mukjizat" yang membutuhkan sedikit usaha dari pihak mereka, dan mereka akan terus mencari sampai terlambat bagi anak-anak mereka.
For many children, practicing the ability to recognize sounds in words can make a big difference in how fast they learn to read. A child can practice phonemic awareness by listening to and reciting pieces that rhyme, such as songs, nursery rhymes, other poems, and rhyming stories. This is why we include all of these things as part of the curriculum on ABCmouse.com.
The Konik is a Polish horse breed descending from very hardy horses from the Biłgoraj region. These horses had a predominantly dun colour, but also black and chestnut horses were present in the population.[4] Some researchers claim these foundation animals were hybrids with wild horse breeding that had been sold to farmers by the zoo in Zamość in 1806, which were bred to local domesticated draft horses.[4] However, genetic studies now contradict the view that the Konik is a surviving form of Eastern European wild horse, commonly called the tarpan, nor is it closely related to them. The Konik shares mitochondrial DNA with many other domesticated horse breeds and their Y-DNA is nearly identical.[5][6]

Phonemic awareness involves the understanding of the relationship between sounds and words. It explains how words are made of sounds that can be used, like reusable building blocks, to construct words (h + at = hat, f + at = fat, etc). Phonics goes one step further by connecting those sounds to written symbols. It involves learning how letters or letter groups represent unique sounds, and how those sounds are blended to form a word.
Dalam perkembangannya multimedia memiliki peranan dalam kehidupan manusia terutama pada anak-anak. Perkembangan teknologi multimedia membuka potensi besar dalam perubahan cara belajar, cara memperoleh informasi dan sebagainya. Demikian pula bagi para anak-anak,dengan adanya aplikasi multimedia interaktif diharapkan mereka akan lebih mudah menentukan dengan cara apa dan bagaimana menyerap informasi yang disampaikan secara cepat dan efisien. Sumber informasi dan ilmu yang mereka peroleh tidak lagi hanya terpaku pada buku tetapi lebih luas dan beraneka ragam. Apalagi dengan adanya jaringan internet yang akan membuat kemudahan dalam memperoleh informasi yang diperlukan.
Consonant digraphs are those spellings wherein two letters are used to represent a single consonant phoneme. The most common consonant digraphs are ch for /tʃ/, ng for /ŋ/, ph for /f/, sh for /ʃ/, th for /θ/ and /ð/. Letter combinations like wr for /r/ and kn for /n/ are technically also consonant digraphs, although they are so rare that they are sometimes considered patterns with "silent letters".
Media ini juga merupakan media belajar yang interaktif, ananda dan orang tua akan menikmati proses belajar dengan cara yang menyenangkan, ananda akan ditanya huruf dan akan mendapatkan reward jika bisa menghafal/menyebutkannya. Proses "fun learning" ini yang akan menumbuhkan semangat dan minat belajar anak. proses belajarpun menjadi lengkap krn anak turut ikut serta dlm belajar dg menggunakan semua indra yg dimilikinya, mereka akan ditanggapi&menanggapi materi yg dipelajarinya, sehingga dapat menumbuhkan minat belajar dlm diri anak.
Phonics curriculum usually starts with teaching letters, slowly creating a working knowledge of the alphabet. Children learn the sounds of each letter by associating it with the word that starts with that sound. Phonics skills grow through reading activities, and students learn to distinguish between vowels and consonants and understand letter combinations such as blends and digraphs.

Who's that giiiiirrrrrrrl⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Saya ngeliat banyak nama baru di online family saya ini 😉 welcooooome! 👋🏾 Jadi, Saya ingin ngasih perkenalan, kali-kali kamu wondering siapa sih wanita ituuuu? ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Ini sedikit tentang saya:⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Saya Deasi, Iya nama saya agak aneh dibanding kebanyakan nama Deasi lainnya (spellingnya nyeleneh) Karena itu kependekan dari nama ibu dan nenek (bukan karena Daisy itu bunga). Srihandinya dari Srikandi dengan twist nama kakek (kata nenek agar saya jadi wanita tangguh seperti Srikandi dan selalu ingat dengan keluarganya). Saya dipanggil Srikandi oleh guru PMP ketika di SMP beliau nolak saya pakai nama belakang asli, hanya untuk beliau katanya. I'm forever grateful ke ayah, ibu, nenek karena ngasih nama yang humble. Saya sebenarnya cinta dengan Empowering women 👱🏻‍♀️to Achieve Better Health, Revive Beauty 🌹 & Living a Sustainable Life 🌈✨ dan mungkin dibaliknya banyak yang nggak nyadar kalau saya as much suka dengan sustainability, I love helping Muslim women untuk membuat perubahan positif dikehidupannya (sesuatu yang selalu saya hinting sejak saya ngerti saya butuh untuk berubah). ⠀⠀⠀ Saya punya banyak anak Saya punya co-wives 2, lagi nyari yang terakhir ke 3 (kali ada yang mau daftar jadi sister saya? (for real, like really real!). ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Saya suka masak tapi nggak suka makan. Saya suka banget sama teh, I loooovvee tea (Especially kalau yang buatin tuh suami, he got tea master talent). ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀ I’m in the PROCESS of re-inventing my self! Karena banyak hal yang masih jadi PR to please Allah.⠀⠀⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Saya suka sekali sama aroma hutan, sampai harus bikin produk aroma hutan buat GMS saking saya nggak bisa selalu cium hutan kalau sedang di kota (agar kangennya terobati).⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Saya tinggalnya mobile antara Green Mommy Shop dan Farm, dan mimpi untuk bisa tinggal hanya di farm saja. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Sekarang giliran kamu⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Apa arti namamu? Kamu tinggalnya dimana? Dan apa minuman favoritmu?⠀⠀⠀ Saat ini kalian lagi di proses ngapain? ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
NAK LANCAR MEMBACA JOM DAFTARKAN ANAK ANDA SEKARANG DI PUSAT DHMK. TEMPOH PEMBELAJARAN SEAWAL 3BULAN TERBUKTI BERKESAN! . . 🎗SUKAR MEMBACA 🎗TIDAK MINAT PADA BUKU 🎗LEMAH DALAM MATA PELAJARAN 🎗MENGASINGKAN DIRI 🎗KURANG FOKUS BILA SESI PEMBELAJARAN 🎗TIADA DAYA SAING 🎗MENGANTUK DI DALAM KELAS . RISAU AKAN ANAK ANDA YANG MASIH TIDAK BOLEH MEMBACA KLIK CHAT KAMI SEKARAN, BIAR KAMI BANTU ANDA . HTTP://WWW.WASAP.MY/+60172330012/DHMK HTTP://WWW.WASAP.MY/+60172330012/DHMK HTTP://WWW.WASAP.MY/+60172330012/DHMK #pusatperkembanganminda #dhmk #slowlearner #study #pusatperkembangan #belajarmembaca #studygroup #maribelajar #pusattusyen #tuitionclass #pandaibelajar #pandaimembaca #pandaimenulis #masalahmembaca #caramudahmembaca #learningprocess #studygroup #dyslexia #autism #tadika #kelaspemulihan #kelasbelajarmembaca #bahasajiwabangsa #lancarmembaca #lancarmenulis #lemahmembaca #lemahmenulis #specialneed #specialneedschildren #ampang - 6 months ago
ADA TAHAPAN ANAK BISA MEMBACA SETELAH KENAL HURUF (SUKU KATA) JADI....TIDAK OTOMATIS BISA BACA Mungkin kita berpikir jika anak sudah tahu huruf a sampai z atau sudah kenal suku kata berarti dia sudah bisa baca.. Eit..tunggu dulu ya.. Jika kita berpikir demikian maka, sakit hatilah yg didapatkan ketika anak kita sudah hafal huruf dan kenal suku kata ternyata ketika disodorkan buku kepadanya dia belum bisa membaca..bisa2 kita salahkan media belajar membacanya.. Sabar ya... Ada tahapannya seorang anak dapat menguasai ketrampilan membaca, dan pembimbing/orang tua wajib mengetahui ini. Yaitu : 1. Setelah anak hafal semua suku kata, maka ajari dia teknik membaca yaitu dg menjejerkan kartu. Jadi, SALAH BESAR jika meyakini anak yg telah mengetahui suku kata akan otomatis tahu cara membacanya. Teknik membaca bisa diajarkan melalui teknik jejer kartu. Dimulai dg yg mudah dulu (2 kartu), lalu meningkat menjadi 3 kartu (membentuk kalimat). 2. Setelah anak mahir membaca dg teknik jejer kartu, baru kenalkan buku. Carilah buku yg penyusunannya sistematis, dan memahami level kesulitan anak serta perhatikan cara penyajian buku tsb, apakah pantas digunakan utk pemula? Anak2 tertentu, akan menolak buku (umumnya ketika usia di bawah 6 atau 7 tahun). Sebab, dalam satu halaman buku memuat terlalu banyak simbol abstrak (huruf) yg membuat anak susah fokus dan terbebani. Namun beban ini, akan berkurang seiring dg meningkatnya usia anak. Semakin matang seorang anak, semakin siap dia belajar membaca bahkan mampu beralih dari flashcard ke buku belajar membaca. Jadi utk sampai pada tahapan bisa membaca sendiri ada tahapannya. Begitu jg dg kemampuan menulis (bukan menebalkan huruf, tapi menulis tanpa menyontek), yg tidak otomatis dikuasai oleh anak yg bisa membaca (pemula). Kalopun ada sebagian anak yg mampu, jumlahnya sangat kecil. Karena utk sampai pada tahapan bisa menulis, anak harus dapat "memvisualisasikan" tulisan atau huruf2 yg terlibat dalam kata dan tahu cara menulisnya. Sumber : Diena Ulfaty, founder, owner & produsen ABACA Flashcard Repost: Bunda Rovi' Nur A minat order Abaca hubungi: #WA  085878491586
×