isvankids memberikan sebuah kurikulum aktifitas yang lengkap untuk menginspirasi anak-anak dengan permainan terbaik. Kegiatan belajar dan bermain bersama isvankids merupakan sebuah langkah awal untuk anak-anak Anda dalam mencapai kesuksesan mereka di masa depan. Aktivitas belajar yang interaktif menjadi dasar kami dalam melatih dan Meningkatkan kemampuan anak Anda untuk dapat berkomunikasi secara efektif.
Around 5% of English speakers have a significant problem with learning to read words. Poor word readers are often trained to use letter‐sound rules to improve their reading skills. This training is commonly called phonics. Well over 100 studies have administered some form of phonics training to poor word readers. However, there are surprisingly few systematic reviews or meta‐analyses of these studies. The most well‐known review was done by the National Reading Panel (Ehri 2001) 12 years ago and needs updating. The most recent review (Suggate 2010) focused solely on children and did not include unpublished studies.
isvankids memberikan sebuah kurikulum aktifitas yang lengkap untuk menginspirasi anak-anak dengan permainan terbaik. Kegiatan belajar dan bermain bersama isvankids merupakan sebuah langkah awal untuk anak-anak Anda dalam mencapai kesuksesan mereka di masa depan. Aktivitas belajar yang interaktif menjadi dasar kami dalam melatih dan Meningkatkan kemampuan anak Anda untuk dapat berkomunikasi secara efektif.
^ "National Reading Panel (NRP) – Publications and Materials – Summary Report". National Institute of Child Health and Human Development. (2000). Report of the National Reading Panel. Teaching children to read: An evidence-based assessment of the scientific research literature on reading and its implications for reading instruction (NIH Publication No. 00-4769). Washington, DC: U.S. Government Printing Office. 2000. Archived from the original on 2010-06-10.
So, I decided to figure this things out! Saya mulai baca-baca sana sini dan browsing-browsing ini itu. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan cara dan bahan yang menurut saya cukup ideal untuk dibelajarkan kepada anak-anak. Kuncinya adalah PHONICS! Inilah metoda belajar membaca bagi English Speaking children. Dengan Phonics, anak-anak diajarkan mengucapkan alfabet menurut bunyinya, misalnya ‘C’ bukan diucapkan ‘si’ tetapi ‘keh..’, ‘G’ bukan dibunyikan ‘ji’ tetapi ‘geh’. Setelah mengenal bunyi huruf, anak-anak akan dikenalkan dengan bentuk-bentuk kata yang berpola, semisal “short vowel”, “long vowel”, “r control”, dsb dsb. Tentu saja teorinya tidak perlu di baca oleh anak-anak, mereka tinggal mengikuti contoh-contoh yang sudah di susun sistematis. Mirip metoda IQRA! Luar biasa, tiba-tiba saja anak sudah bisa mengenali pola bunyi dan …bisa membaca! Persis seperti anak-anak yang belajar membaca huruf Arab dengan metoda Iqra!
Seperti yang dikutip dari tulisan Tamekia Reece dari www.parents.comes yang terbit pada Januari 2014, seorang psikolog anak dari Children's Medical Center, Dallas yaitu Pete Stavinoha, Ph.D mengungkapkan anak-anak usia balita umumnya memang belum mengenal konsep waktu sehingga mereka belum memiliki kemampuan untuk bersabar dan menunggu bahkan jika hanya sebentar saja.
Yang terpenting adalah menumbuhkan karakter dan semangat lewat olahraga. Semangat olahraga adalah persaingan sehat. Setiap kompetisi olahraga mempunyai aturan yang jelas. Semua pihak yang terlibat harus mematuhi peraturan, menghormati otoritas dan bersaing secara adil. Anak-anak harus mengikuti peraturan, menghormati keputusan wasit dan bersikap adil, agar mereka tumbuh menjadi sosok yang jujur dan adil dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaat lainnya dari menggunakan metode fonik untuk mengajarkan membaca Bahasa Inggris adalah metode ini mempermudah anak Anda untuk mendengar dan memanipulasi bunyi dalam kata-kata yang diucapkan sehingga anak Anda akan lebih mudah membaca kata-kata Bahasa Inggris. Contohnya, Anda bisa menggantikan bunyi huruf c dari kata ‘cake’ menjadi bunyi huruf t dari kata ‘take’. Kedua kata tersebut memiliki bunyi akhir yang sama. Yang membedakannya adalah bunyi awal.
For many children, practicing the ability to recognize sounds in words can make a big difference in how fast they learn to read. A child can practice phonemic awareness by listening to and reciting pieces that rhyme, such as songs, nursery rhymes, other poems, and rhyming stories. This is why we include all of these things as part of the curriculum on ABCmouse.com.
Hasil menunjukkan latihan fonik mungkin berkesan untuk meningkatkan beberapa kemahiran membaca. Secara khusus, ia mempunyai kesan besar terhadap ketepatan membaca nonword, kesan sederhana terhadap ketepatan membaca perkataan, dan kesan kecil hingga sederhana untuk pengetahuan bunyi huruf. Untuk beberapa hasil (kefasihan membaca perkataan, ejaan, output fonologi dan kefahaman membaca), latihan fonik mungkin ada kesan kecil atau sederhana, tetapi ia sukar untuk dipastikan kerana hasil itu mungkin disebabkan kebetulan. Keputusan untuk kefasihan membaca nonword, yang diukur dalam satu kajian sahaja, menunjukkan keputusan negatif yang mungkin juga satu kebetulan.
Kita tidak akan dapat mengajari anak membaca apapun, jika hanya disodori buku/kartu saja, tanpa diberitahu tahu cara membacanya, dan bagaimana 'bunyi' masing2 huruf jika bertemu huruf lainnya. Atau istilah kerennya ilmu 'fonik'. Semua perlu tahapan. Jika tahapan keliru, atau salah urutan, maka pendekatannya kurang berhasil dan dapat menimbulkan efek 'trauma' atau 'sebel'. Sepintar apapun pembimbing, amat memerlukan media yg bagus, agar efek dari belajar tidak menimbulkan trauma pada anak. Tapi sebaliknya dapat menimbulkan kecanduan sampai2 anak tahan belajar dalam waktu 2 jam non stop.
Pada bulan Mei 2009, kami merilis Membaca Starfall TK dan Bahasa Kurikulum Arts. Metode pengajaran kami memotivasi anak dalam suasana imajinasi dan antusiasme, memberikan kesempatan bagi anak-instruksi diarahkan, dan mendukung pelajar bahasa Inggris dan pembaca berjuang belajar bersama rekan-rekan mereka. Silakan kunjungi Toko Starfall untuk murah lainnya jurnal dan buku phonics paralel website ini.
Hari ini siswa bunda Siti Muthmainnah belajar di sentra imtaq Kb Zumrotul Wildan, Jepara, Jateng Dimulai dari mengenakan perlengkapan sholat, mukena untuk menutup aurat bagi yang putri dan sarung beserta peci untuk yang putra. Selesai praktek sholat, lanjut dengan bermain dan belajar pake Abaca Hijaiyah....seru lho....dapat reward donat 🍩🍩🍩....wuih yummy... Inilah sekolah yang mempraktekkan sistem BCCT (Beyond Center n Circle Time) Yang diasuh oleh bunda Siti Muthmainnah Seru kan bunda? Abaca flashcard seri hijaiyah bisa dijadikan alat peraga pada sentra imtaq Bunda tak perlu menyiapkan APE yang harus ribet,gunting2 kertas,tulis2 pakai spidol Kami sediakan abaca flashcard buat mendukung pembelajaran di sentra sentra Sebagai contoh: Bisa dipakai pada sentra Persiapan Seri 1 panen es krim Seri 2 menguak misteri strowbery Seri 3 berburu harta karun di peternakan Seri inggris home stuffs(boy n girl) Pada sentra imtaq Seri hijaiyah 1 berburu di istana raja donat Seri 2 hijaiyah pesta permen pizza Kami ada untuk memberikan solusi pada sekolah bunda yang sedang butuh APE pendukung yang sesuai perkembangan anak Kami ada untuk membantu kesulitan bunda saat mempersiapkan ,apa saja yang dibutuhkan saat bermain di sentra persiapan n imtaq Didalam abaca pun ada box box sebagai penyimpan kartu Jadi aman,rapi Tak butuh stoples atau dompet penyimpan kartu Tampilan abaca pun menarik Jadi tak butuh spidol lagi buat mewarna Tak perlu capek menggunting n tulis2 pake spidol .... Kami sediakan dengan harga murah.... Cara penggunaan nya pun sudah lengkap di dalam nya... Usah bingung bingung ya bunda... Markom by Siti Muthmainnah n Nila Pict by Bunda Siti ABACA TIDAK DIJUAL DI TOKO BUKU/MAINAN. Agen Resmi Abaca Flashcard Harlina 085878491586

BERSIKAP SOPAN BERSAMA ABACA Banyak ibu2 baru yg kaget saat menemukan anaknya yg tadinya manis kok tahu2 jadi 'nakal' ya?Jadi suka memukul, jadi suka berteriak2 ga sopan, dll. Umumnya sifat semacam itu muncul saat anak menginjak usia 2 tahun. Itulah sebabnya pendidikan karakter sejak dini amatlah penting untuk menghilangkan kebiasaan buruk anak. Saat anak memukul wajah ibu, maka pegang tangannya, lalu pelan2 sentuhkan ke wajah kita sambil berkata, "Sayang... Ade sayang bunda. Sayang." Agar si kecil mengubah pukulan menjadi usapan lembut di pipi sebagai simbol sayang. Tapi bagaimana cara menghadapi anak teriak2 minta sesuatu spt kehilangan sopan santun? Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan orang tua adalah menemani mereka belajar. Bimbing dia belajar sambil menyisipkan ajaran dan contoh contoh sikap sopan. Kalau anda sedang belajar dengan si kecil menggunakan media Abaca Flash Card, ada beberapa sikap sopan yang bisa bunda ajarkan sambil menemaninya: 1. Berkata Maaf Anak, apalagi masih dalam usia dini, mungkin dia belum tau kapan harus berkata Maaf ini. Bunda ajarkan misalnya saat anak salah mengucap suku kata dalam kartu, bunda bisa berkata "Maaf ya, Sayang. Adek belum dapat es krim, yuk coba lagi." Nah hal ini mengajarkan anak bersikap sopan saat ada orang yang belum benar melakukan kesalahan sehingga tidak menyinggung orang lain. 2. Berkata "Tolong" Contoh kecil, saat selesai bermain Abaca, bunda bisa berkata pada si kecil "Sayang, tolong masukin kartu ini pada box nya ya..." Hal ini mengajarkan anak untuk bersikap sopan dalam meminta seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi tidak ada lagi kata kata kasar ya bun... 3. Berkata "Terima Kasih" Nah, ini yang penting juga. Ucapan terima kasih. Bunda bisa bilang "Terimakasih ya Sayang, adek sudah merapikan Abaca dan menaruh di tempatnya". Dengan begitu anak akan tahu arti terima kasih dan kapan menggunakannya. Nah itu hanya sebagian dari sekian banyak ucapan dan sikap sopan anak yang bisa bunda ajarkan pada si kecil melalui permainan Abaca. Selain anak bisa membaca dengan media ramah otak ini, Abaca pun bisa jadi sarana yang tepat untuk mengajarkan anak belajar bersikap sopan. Selamat bersenang-senang
corresponding sounds. Compared to the Syllable Spelling Technique, in phonic reading children just need to remember 26 letters (a – z) and its sound [9]. There are two different categories of phonemes, vowels (a, e, i, o, u) with different pronunciations of “e” known as “e pepet”(/e) and “e taling” (/Ɲ), and also consonants (p, t, k, b, d, g, c, j, s, h, 1, r, m, n,  , ƾ , w, y/) [11]. They are not forced to remember all the different syllables that definitely will put some burden on the children, especially dyslexics. For example, in the Malay language ‘a’ is pronounced as “aaa” and ‘b’ is pronounced as “beh”. Combinations of these letters is called a syllable and pronounced as “beh - aaa - ba”. Previous researches show that the Phonic Reading Technique that emphasizes on letter-sound, is proven to improve reading skill [10] [12]. B. Multisensory Approach There are two ways to teach dyslexics, either by using the traditional teaching approach or Multisensory Teaching Approach. The traditional method is not effective for dyslexic children [13] as they need to stay focused on the information that is being given to them [7]. Unable to stay focused for long durations [2] and having short term memory problems [7][13] are major contributors to the ineffectiveness of traditional methods. A better approach to teach dyslexics is by applying the Multisensory Method in the teaching and learning process by teachers [7] as it consists of strings of multisensory strategies (linking of eyes, ears, voice, and hand movements) [6]. The Multisensory Method is proven to be an effective method to teach dyslexic children as they seem to interact with teaching tools and apply extra creativity towards their learning contents [6]. The strength of the Multisensory Approach lies in its ability to attract dyslexics’ attention, as they usually have problems staying focused during the learning process [7]. C. Dyslexia People who have different categories of disabilities can be classified into a few specific groups such as dyslexia, dyscalculia, and dyspraxics [1][2][4]. These types of syndromes have similar problems such as difficulty in speaking, writing, language problems, arithmetic confusion [6][14][15], emotional, and behavioral disorder [1][5][4]. Dyslexia is a specific learning difficulty and a disability [7][16] that is faced by a person. They show symptoms of difficulties such as in reading, writing, listening, and speaking [1][15][17], which can cause inferiority complex among dyslexics, especially children. Generally, dyslexics’ characteristics are different from one child to another and characterized by unusual balance of skills [2]. However, they are always being referred to the cluster of symptoms like having difficulties with specific learning skills, mostly reading [13]. According to related literature, this syndrome is recognized as specific learning disabilities associated to the neurological system that cover a wide range of reading difficulties, [6] but does not imply low intelligence or poor educational potential. It is shown that dyslexia is related to learning disabilities only [2]. Therefore, based on the above definitions, dyslexia can be concluded as specific learning disabilities such as reading, writing, speaking, and listening that might occur in early age. Dyslexics need support and more attention from people around them to encourage them so that they can live like other people. D. Interactive Multimedia Multimedia as an interactive application can help dyslexics to reduce their weaknesses by focusing on their limitations and also on their potentials [18]. It is more concise and clear; and helps them out from their problems. Multimedia consists of interactive elements that are usually used to attract viewers. There are several combinations of multimedia such as text, audio, video, graphic, and interactive content. It can play the role of a secondary learning tool to enhance understanding among children and interest in their learning process. Multimedia has the potential to reduce or remove most of the problems that are faced by dyslexics because it uses interactive multimedia elements such as graphics and auditory devices for development [7]. Besides, multimedia can be a teaching computer [8] because it creates a fun learning environment for dyslexics. The elements used in multimedia application such as text, color, images, audios, video, animation, and graphics can attract children to stay focused and have fun during the learning session. In addition, it is also used on the concept of teaching and understanding for dyslexics [4][19]. This may contribute to improvement in their learning process by providing extrinsic motivation for task completion and also help to increase motivation [4]. III. IMPLEMENTATION OF LEARNING STRATEGIES IN “BIJAK MEMBACA” The main focus in this section is to discuss the implementation of the reading technique and learning approach using the interactive multimedia application, “Bijak Membaca”. The design of “Bijak Membaca” is shown in Figure 1, which refers to the content of the application. Basically, “Bijak Membaca” consists of two main modules; i) “Tutorial” and ii) “Aktiviti”. In the first module, there are four sub-modules, which comprise “Huruf”, “Suku Kata”, “Perkataan”, and “Ayat”. Interactive activity is the main focus in the second module that consists of “Latihan Suai”, “Latihan Sebut”, and “Latihan Baca”. 2012 IEEE Colloquium on Humanities, Science & Engineering Research (CHUSER 2012), December 3-4, 2012, Kota Kinabalu,Sabah, Malaysia555
To understand the big picture, children must understand the alphabetic principle—how our English system of writing works. The alphabetic principle is simply that visual symbols (letters) represent speech sounds (phonemes). To write the spoken word “dog,” you use alphabetic symbols to represent the speech sounds. We can combine and recombine letter symbols to form words. As odd as it may sound, children can learn letters and even letter sounds in very rote ways without understanding the alphabetic system. When children do not understand the alphabetic principle, they may do the following:
The goal of phonics is to enable beginning readers to decode new written words by sounding them out, or, in phonics terms, blending the sound-spelling patterns. Since it focuses on the spoken and written units within words, phonics is a sublexical approach and, as a result, is often contrasted with whole language, a word-level-up philosophy for teaching reading.
Mengajarkan membaca Bahasa Inggris kepada anak sejak dini sangatlah penting. Anak Anda akan mudah membaca dalam Bahasa Inggris dengan pengucapan yang benar asalkan menggunakan metode yang tepat. Salah satu metode yang bisa Anda gunakan dalam mengajarkan membaca Bahasa Inggris adalah dengan menggunakan metode fonik. Berikut ini adalah 6 manfaat metode fonik dalam mengajarkan membaca Bahasa Inggris.
The complexities of letter names in English might lead you to think we should not teach letter names at all, but research suggests that teaching letter names is still worthwhile7—it just needs to be accompanied by lots of attention to the sound or sounds commonly associated with each letter and by a thorough understanding of the challenges posed by English letter names. A teacher with such knowledge would understand, for example, why a young child might spell the word daisy as WAZ. Why? Sometimes children write “W” for the /d/ sound because the letter name for Ww—“double-u”—begins with the /d/ sound. The next sound we hear in daisy is the letter name for Aa (the long a sound), and the third and fourth sounds in daisy are the name of the letter Zz (“zee”).
Temani dan tuntun anak untuk belajar di web site http://www.starfall.com. This is a really amazing educational site, and it’s free! Semua bahan pelajaran bisa di download gratis. Web site ini sangat menyenangkan bagi anak-anak, karena masing-masing runtunan belajar diakhiri dengan game yang asyik-asyik. Tanpa sadar anak-anak akan belajar dan terus bertahan belajar. Juga, karena berupa mulitmedia interaktif, kita hanya perlu menemani dan memastikan anak mengikuti sequence belajar yang telah di sarankan, anak-anak tinggal melihat, menirukan, mengulangi bahan pelajaran multimedia tersebut. Spelling dan Pronounciation dijamin benar dong…nggak seperti kita jika mengajarinya sendiri. Selain itu, download saja bahan-bahan yang bisa dicetak sehingga anak tidak harus membuka komputer+internet untuk belajar. Mereka juga bisa melakukan aktifitas asyik dengan worksheet yang tersedia. Dan…tanpa menyadarinya mereka juga belajar MENULIS!
Manfaat lainnya dari menggunakan metode fonik untuk mengajarkan membaca Bahasa Inggris adalah metode ini mempermudah anak Anda untuk mendengar dan memanipulasi bunyi dalam kata-kata yang diucapkan sehingga anak Anda akan lebih mudah membaca kata-kata Bahasa Inggris. Contohnya, Anda bisa menggantikan bunyi huruf c dari kata ‘cake’ menjadi bunyi huruf t dari kata ‘take’. Kedua kata tersebut memiliki bunyi akhir yang sama. Yang membedakannya adalah bunyi awal.
Manfaat metode fonik dalam proses mengajar Bahasa Inggris adalah mempermudah Anda untuk mengenalkan kata-kata dan kalimat secara langsung tanpa mengeja. Bunda bisa menggunakan metode ini dengan cara mengajarkan kata-kata atau kalimat-kalimat Bahasa Inggris secara keseluruhan, bukan per bunyi dari huruf. Anak Anda akan melihat berbagai kosakata di kartu, mendengarkan kosakata yang diucapkan, dan mengulangi pengucapan kosakata tersebut. Anak Anda akan mendapatkan pemahaman makna dari kosakata tersebut.
Berkali-kali, penelitian telah menunjukkan bahwa kunci untuk membuat anak-anak kecanduan phonics adalah memulai lebih awal. Bagaimana awal? Beberapa pendidik mengatakan taman kanak-kanak adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan pendidikan fonetik untuk memberi anak-anak pelajaran baru dalam membaca mereka. Tentu saja, tidak ada salahnya datang dari eksplorasi awal huruf dan suara anak. Dalam skenario terbaik, anak-anak ini akan memasuki sekolah dasar yang sudah naik pada tingkat membaca kelas dua atau tiga.
Phonics is the relationships between the letters of written language and the sounds of spoken language. Children's reading development is dependent on their understanding of the alphabetic principle — the idea that letters and letter patterns represent the sounds of spoken language. Learning that there are predictable relationships between sounds and letters allows children to apply these relationships to both familiar and unfamiliar words, and to begin to read with fluency.

... Studies from the National Institute of Child Health and Human Development have shown that by using multisensory approach, children with learning disabilities can do " learn-to-read " better [12]. Furthermore, using various type of teaching tools that harnesses the sensory strength of dyslexic children does not only makes the learning process more productive and effective, but also makes the children stay focused for long durations [7]. For case study purpose, Puryakhasta, et al. [12] implemented multisensory approach by employing various technologies like touch screens, accelerometers, gyroscopes, voice recognition, and sound reproduction. ...

ADA TAHAPAN ANAK BISA MEMBACA SETELAH KENAL HURUF (SUKU KATA) JADI....TIDAK OTOMATIS BISA BACA Mungkin kita berpikir jika anak sudah tahu huruf a sampai z atau sudah kenal suku kata berarti dia sudah bisa baca.. Eit..tunggu dulu ya.. Jika kita berpikir demikian maka, sakit hatilah yg didapatkan ketika anak kita sudah hafal huruf dan kenal suku kata ternyata ketika disodorkan buku kepadanya dia belum bisa membaca..bisa2 kita salahkan media belajar membacanya.. Sabar ya... Ada tahapannya seorang anak dapat menguasai ketrampilan membaca, dan pembimbing/orang tua wajib mengetahui ini. Yaitu : 1. Setelah anak hafal semua suku kata, maka ajari dia teknik membaca yaitu dg menjejerkan kartu. Jadi, SALAH BESAR jika meyakini anak yg telah mengetahui suku kata akan otomatis tahu cara membacanya. Teknik membaca bisa diajarkan melalui teknik jejer kartu. Dimulai dg yg mudah dulu (2 kartu), lalu meningkat menjadi 3 kartu (membentuk kalimat). 2. Setelah anak mahir membaca dg teknik jejer kartu, baru kenalkan buku. Carilah buku yg penyusunannya sistematis, dan memahami level kesulitan anak serta perhatikan cara penyajian buku tsb, apakah pantas digunakan utk pemula? Anak2 tertentu, akan menolak buku (umumnya ketika usia di bawah 6 atau 7 tahun). Sebab, dalam satu halaman buku memuat terlalu banyak simbol abstrak (huruf) yg membuat anak susah fokus dan terbebani. Namun beban ini, akan berkurang seiring dg meningkatnya usia anak. Semakin matang seorang anak, semakin siap dia belajar membaca bahkan mampu beralih dari flashcard ke buku belajar membaca. Jadi utk sampai pada tahapan bisa membaca sendiri ada tahapannya. Begitu jg dg kemampuan menulis (bukan menebalkan huruf, tapi menulis tanpa menyontek), yg tidak otomatis dikuasai oleh anak yg bisa membaca (pemula). Kalopun ada sebagian anak yg mampu, jumlahnya sangat kecil. Karena utk sampai pada tahapan bisa menulis, anak harus dapat "memvisualisasikan" tulisan atau huruf2 yg terlibat dalam kata dan tahu cara menulisnya. Sumber : Diena Ulfaty, founder, owner & produsen ABACA Flashcard Repost: Bunda Rovi' Nur A minat order Abaca hubungi: #WA  085878491586
×