Kim Burnim: Of course. The letter c, for example, sometimes stands for the same sound as the letter k, as in the word “cat,” and sometimes stands for the same sound as the letter s, as in the word “city.” The most common sound for the letter c is the “k” sound, so that’s what we teach children first. Another example is the letter a—sometimes it represents the short a sound, as in the word “cap,” and sometimes it represents the long a sound, as in the word cape. We usually teach the short a sound first, because that’s more common, and then teach the long a sound later on.

... In " learn-to-read " process, dyslexic children may have problems varied from phonological decoding and awareness to alphabet and word identification. Unfortunately, the difficulties are not only limited to reading problems, but also to emotional and behavioural problem [7]. There are some problems that possibly occur on dyslexic children [ 4. Difficulty decoding single words 5. Phonological awareness (such as if the /k/ sound was taken away from cat, what word that would remain) 6. Reverses letters and numbers (b and d, p and q) 7. Slow reading and poor spelling 8. Do not follow multiple instruction at one time 9. Expressive language difficulties 10. ...


Tipe:BukuHadirin:Anak-AnakGenre:Sastra & BiografiNomor Model:english story booksadult picture books:Quality Color printing BookEnglish picture books:Picture album baby picture book: kids picture bookstattoo picture books:warm pictures storyEducation books:children's picture bookpicture book:school picturetattoo picture book :english picture books for kidskids picture books :Soft Cloth books
A good phonics lesson begins with an explicit explanation of the sound-spelling being taught along with guided opportunities for students to blend, or sound out, words using the new sound-spelling. These exercises should be followed by guided and independent reading practice in text that contains words with the new sound-spelling. This portion of phonics instruction is key. Therefore, phonics instruction should focus on applying learned sound-spelling relationships to actual reading, with smaller amounts of time spent on the initial task of learning phonics rules. That way, you can plan phonics lessons that are appropriate for all students, even if some have higher levels of phonics mastery than others.
Once students grasp the alphabet, and know the sound each letter represents they continue on to blend these letter-sound pairings together to read a word. They can then distinguish between similar sounds (e.g. “three,” “free,” and “tree), and phonics success is just around the corner. An effective homeschool phonics curriculum will involve frequent reinforcement and review of these skills.
ADA TAHAPAN ANAK BISA MEMBACA SETELAH KENAL HURUF (SUKU KATA) JADI....TIDAK OTOMATIS BISA BACA Mungkin kita berpikir jika anak sudah tahu huruf a sampai z atau sudah kenal suku kata berarti dia sudah bisa baca.. Eit..tunggu dulu ya.. Jika kita berpikir demikian maka, sakit hatilah yg didapatkan ketika anak kita sudah hafal huruf dan kenal suku kata ternyata ketika disodorkan buku kepadanya dia belum bisa membaca..bisa2 kita salahkan media belajar membacanya.. Sabar ya... Ada tahapannya seorang anak dapat menguasai ketrampilan membaca, dan pembimbing/orang tua wajib mengetahui ini. Yaitu : 1. Setelah anak hafal semua suku kata, maka ajari dia teknik membaca yaitu dg menjejerkan kartu. Jadi, SALAH BESAR jika meyakini anak yg telah mengetahui suku kata akan otomatis tahu cara membacanya. Teknik membaca bisa diajarkan melalui teknik jejer kartu. Dimulai dg yg mudah dulu (2 kartu), lalu meningkat menjadi 3 kartu (membentuk kalimat). 2. Setelah anak mahir membaca dg teknik jejer kartu, baru kenalkan buku. Carilah buku yg penyusunannya sistematis, dan memahami level kesulitan anak serta perhatikan cara penyajian buku tsb, apakah pantas digunakan utk pemula? Anak2 tertentu, akan menolak buku (umumnya ketika usia di bawah 6 atau 7 tahun). Sebab, dalam satu halaman buku memuat terlalu banyak simbol abstrak (huruf) yg membuat anak susah fokus dan terbebani. Namun beban ini, akan berkurang seiring dg meningkatnya usia anak. Semakin matang seorang anak, semakin siap dia belajar membaca bahkan mampu beralih dari flashcard ke buku belajar membaca. Jadi utk sampai pada tahapan bisa membaca sendiri ada tahapannya. Begitu jg dg kemampuan menulis (bukan menebalkan huruf, tapi menulis tanpa menyontek), yg tidak otomatis dikuasai oleh anak yg bisa membaca (pemula). Kalopun ada sebagian anak yg mampu, jumlahnya sangat kecil. Karena utk sampai pada tahapan bisa menulis, anak harus dapat "memvisualisasikan" tulisan atau huruf2 yg terlibat dalam kata dan tahu cara menulisnya. Sumber : Diena Ulfaty, founder, owner & produsen ABACA Flashcard Repost: Bunda Rovi' Nur A minat order Abaca hubungi: #WA  085878491586
Aplikasi untuk menggambar adalah sebuah program gambar gratis untuk anak-anak dengan pilihan banyak baik. Anda dapat menggambar dengan pena yang berbeda, Anda dapat menempatkan perangko pada gambar Anda, membuat semua jenis efek teks, dan banyak lagi. Program ini cocok untuk anak-anak yang sangat muda dan memiliki modus anak terutama bagi mereka. Tetapi juga menyediakan banyak menyenangkan untuk anak-anak yang lebih tua. Hal ini digunakan oleh ratusan ribu anak-anak di seluruh dunia. Cara terbaik untuk melihat apa yang mungkin adalah dengan hanya men-download dan menginstalnya. Ingat, itu gratis. 
So, I decided to figure this things out! Saya mulai baca-baca sana sini dan browsing-browsing ini itu. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan cara dan bahan yang menurut saya cukup ideal untuk dibelajarkan kepada anak-anak. Kuncinya adalah PHONICS! Inilah metoda belajar membaca bagi English Speaking children. Dengan Phonics, anak-anak diajarkan mengucapkan alfabet menurut bunyinya, misalnya ‘C’ bukan diucapkan ‘si’ tetapi ‘keh..’, ‘G’ bukan dibunyikan ‘ji’ tetapi ‘geh’. Setelah mengenal bunyi huruf, anak-anak akan dikenalkan dengan bentuk-bentuk kata yang berpola, semisal “short vowel”, “long vowel”, “r control”, dsb dsb. Tentu saja teorinya tidak perlu di baca oleh anak-anak, mereka tinggal mengikuti contoh-contoh yang sudah di susun sistematis. Mirip metoda IQRA! Luar biasa, tiba-tiba saja anak sudah bisa mengenali pola bunyi dan …bisa membaca! Persis seperti anak-anak yang belajar membaca huruf Arab dengan metoda Iqra!
Repost dari http://greenmommyshop.wordpress.com Iya nggak 😉 Setelah 9 tahun GMS berdiri, kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk teman-teman bisa berpenghasilan. Bergabunglah dengan GMS Sales Team dan dapatkan penghasilan dengan cara alami dan halal 😉 Kami mengundang kamu untuk bergabung dengan kami untuk memasarkan produk alami, sehat, ramah lingkungan & halal! Tidak perlu biaya apapun dan tidak […]
However, we suggest that the answer also varies by child and should be informed by simple diagnostic assessments. Some children are able to develop letter-sound knowledge more quickly and efficiently than others. This is one reason why differentiated phonics instruction is so well advised. Some instruction is provided to the whole class, but then it is reinforced and gaps are filled in as needed in a small-group context. Research has shown that reading achievement is supported when instruction is differentiated.3 A number of researchers have developed systems by which assessments determine which letter-sound relationships each child has learned and not yet learned, and a systematic series of lessons are provided accordingly.4 An important direction for our field is to work toward determining the most time-efficient approaches to ensuring each child in a class meets grade-level expectations in word reading each year.
Starfall.com dibuka pada bulan September 2002 sebagai layanan umum gratis untuk mengajarkan anak-anak untuk membaca dengan phonics. Pendekatan sistematis phonics kami, dalam hubungannya dengan praktek kesadaran fonemik, sangat cocok untuk pengembangan prasekolah, bahasa TK, kelas satu, kelas dua, pendidikan khusus, homeschooling, dan Inggris (ELD, ELL, ESL). Starfall merupakan alternatif pendidikan untuk pilihan hiburan lainnya untuk anak-anak.
In the reading skills pyramid, a visual illustration of the process kids go through when learning to read, phonics follows closely behind phonemic awareness. Once children understand that letters have associated sounds, they begin to make relationships between those sounds and spelling. This is the skill that helps beginning readers decode — or sound out — new words. The key elements of reading are:

ADA TAHAPAN ANAK BISA MEMBACA SETELAH KENAL HURUF (SUKU KATA) JADI....TIDAK OTOMATIS BISA BACA Mungkin kita berpikir jika anak sudah tahu huruf a sampai z atau sudah kenal suku kata berarti dia sudah bisa baca.. Eit..tunggu dulu ya.. Jika kita berpikir demikian maka, sakit hatilah yg didapatkan ketika anak kita sudah hafal huruf dan kenal suku kata ternyata ketika disodorkan buku kepadanya dia belum bisa membaca..bisa2 kita salahkan media belajar membacanya.. Sabar ya... Ada tahapannya seorang anak dapat menguasai ketrampilan membaca, dan pembimbing/orang tua wajib mengetahui ini. Yaitu : 1. Setelah anak hafal semua suku kata, maka ajari dia teknik membaca yaitu dg menjejerkan kartu. Jadi, SALAH BESAR jika meyakini anak yg telah mengetahui suku kata akan otomatis tahu cara membacanya. Teknik membaca bisa diajarkan melalui teknik jejer kartu. Dimulai dg yg mudah dulu (2 kartu), lalu meningkat menjadi 3 kartu (membentuk kalimat). 2. Setelah anak mahir membaca dg teknik jejer kartu, baru kenalkan buku. Carilah buku yg penyusunannya sistematis, dan memahami level kesulitan anak serta perhatikan cara penyajian buku tsb, apakah pantas digunakan utk pemula? Anak2 tertentu, akan menolak buku (umumnya ketika usia di bawah 6 atau 7 tahun). Sebab, dalam satu halaman buku memuat terlalu banyak simbol abstrak (huruf) yg membuat anak susah fokus dan terbebani. Namun beban ini, akan berkurang seiring dg meningkatnya usia anak. Semakin matang seorang anak, semakin siap dia belajar membaca bahkan mampu beralih dari flashcard ke buku belajar membaca. Jadi utk sampai pada tahapan bisa membaca sendiri ada tahapannya. Begitu jg dg kemampuan menulis (bukan menebalkan huruf, tapi menulis tanpa menyontek), yg tidak otomatis dikuasai oleh anak yg bisa membaca (pemula). Kalopun ada sebagian anak yg mampu, jumlahnya sangat kecil. Karena utk sampai pada tahapan bisa menulis, anak harus dapat "memvisualisasikan" tulisan atau huruf2 yg terlibat dalam kata dan tahu cara menulisnya. Sumber : Diena Ulfaty, founder, owner & produsen ABACA Flashcard Repost: Bunda Rovi' Nur A minat order Abaca hubungi: #WA  085878491586


From the alphabet song to children’s toys, much of the messaging that young children receive about letters is focused on the names of letters. Although research does suggest the importance of teaching and learning letter names, also vitally important is teaching the sounds associated with the letters. A common faux pas is neglecting instruction in those sounds throughout prekindergarten and sometimes well into kindergarten.
Kajian selanjutnya dalam latihan fonik perlu memperbaiki cara laporan prosedur pengagihan peserta kepada kumpulan dan bagaimana pengkaji memastikan peserta tidak tahu bahawa mereka dalam kumpulan ‘eksperimen’ atau kumpulan ‘kawalan.‘ Kajian juga perlu melaporkan dengan jelas tentang bagaimana pengkaji memastikan mereka yang mengukur kemajuan membaca kanak‐kanak tidak tahu samada mereka dalam kumpulan latihan fonik atau tidak.
Pembelajaran bahasa asing yg paling efektif adalah dg langsung praktik, bukan pasif. Seperti bayi yang selalu diajak ngobrol oleh orangtuanya langsung. Bahkan bayi bule usia 3 tahun sudah tahu cara menerapkan tensis (penggunaan verba yg berubah dg variabel waktu) spt present tense, future tense, past tense meski ga paham grammar. Bandingkan dg anak yg belajar bahasa Inggris di sekolah, selama 3 tahun di SMP masih belum bisa bicara dalam bahasa Inggris, masih kalah dg bayi bule usia 3 tahun? Artinya pendekatan belajar bahasa asing yg dilakukan di sekolah kurang tepat karena bersifat pasif (anak tidak diajak ngobrol) shg anak2 tidak dapat mempraktikkannya.
×