So, I decided to figure this things out! Saya mulai baca-baca sana sini dan browsing-browsing ini itu. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan cara dan bahan yang menurut saya cukup ideal untuk dibelajarkan kepada anak-anak. Kuncinya adalah PHONICS! Inilah metoda belajar membaca bagi English Speaking children. Dengan Phonics, anak-anak diajarkan mengucapkan alfabet menurut bunyinya, misalnya ‘C’ bukan diucapkan ‘si’ tetapi ‘keh..’, ‘G’ bukan dibunyikan ‘ji’ tetapi ‘geh’. Setelah mengenal bunyi huruf, anak-anak akan dikenalkan dengan bentuk-bentuk kata yang berpola, semisal “short vowel”, “long vowel”, “r control”, dsb dsb. Tentu saja teorinya tidak perlu di baca oleh anak-anak, mereka tinggal mengikuti contoh-contoh yang sudah di susun sistematis. Mirip metoda IQRA! Luar biasa, tiba-tiba saja anak sudah bisa mengenali pola bunyi dan …bisa membaca! Persis seperti anak-anak yang belajar membaca huruf Arab dengan metoda Iqra!
On 30 November 2004 Brendan Nelson, Minister for Education, Science and Training, established a National Inquiry into the Teaching of Literacy. The Inquiry examined the way reading is taught in schools, as well as the effectiveness of teacher education courses in preparing teachers for reading instruction. The first two recommendations of the Inquiry make clear the Committee's conviction about the need to base the teaching of reading on evidence and the importance of teaching systematic, explicit phonics within an integrated approach.[43]

Selain itu zaman sekarang semuanya sudah berbeda dg dulu. Sekarang banyak sekali gangguannya kalo mau belajar. Anak2 semakin malas akibat teknologi. Banyak anak nyandu game dan hubungannya dg orangtua buruk. Bahkan suka berantem dg orangtuanya sendiri. Banyak pertanyaan yang terbesit dibenak kita semua, tentang bagaimana sekarang kita bisa menanamkan karakter baik pada anak dan mereka mau rajin belajar?
The National Research Council re-examined the question of how best to teach reading to children (among other questions in education) and in 1998 published the results in the Prevention of Reading Difficulties in Young Children.[21] The National Research Council's findings largely matched those of Adams. They concluded that phonics is a very effective way to teach children to read at the word level, more effective than what is known as the "embedded phonics" approach of whole language (where phonics was taught opportunistically in the context of literature). They found that phonics instruction must be systematic (following a sequence of increasingly challenging phonics patterns) and explicit (teaching students precisely how the patterns worked, e.g., "this is b, it stands for the /b/ sound").[22]

English has absorbed many words from other languages throughout its history, usually without changing the spelling of those words. As a result, the written form of English includes the spelling patterns of many languages (Old English, Old Norse, Norman French, Classical Latin and Greek, as well as numerous modern languages) superimposed upon one another.[7] These overlapping spelling patterns mean that in many cases the same sound can be spelled differently and the same spelling can represent different sounds. However, the spelling patterns usually follow certain conventions.[8] In addition, the Great Vowel Shift, a historical linguistic process in which the quality of many vowels in English changed while the spelling remained as it was, greatly diminished the transparency of English spelling in relation to pronunciation.


Begitulah kira-kira apa yang saya alami selama 6 bulan ini ketika saya membimbing anak saya untuk bisa membaca dalam bahasa Inggris. Alhamdulillah, Affan yang berusia 6 tahun dan duduk di Year 1 sudah mulai bisa membaca. Ehmmm…tentu saja dengan pronounciation, spelling, ritme dan aksen orang Inggris (Aussie..heh), nggak seperti papa-mamanya yang suka ngomong Inggris Jawa. Untuk kakaknya, si Afkar yang duduk di Year 6, dia tidak perlu di bimbing karena sudah bisa men-judge perbedaan bahasa Indonesia dan English. Sedangkan bagi si Algy, karena baru berumur 3 tahun dan belum mengenal huruf, insyaallah akan belajar sendiri, karena belum ada background yang menghambat.
We included studies that use randomisation, quasi‐randomisation, or minimisation to allocate participants to either a phonics intervention group (phonics alone, phonics and phoneme awareness training, or phonics and irregular word reading training) or a control group (no training or alternative training, such as maths). Participants were English‐speaking children, adolescents, or adults whose word reading was below the level expected for their age for no known reason (that is, they had adequate attention and no known physical, neurological, or psychological problems).
Bagi saya sendiri, keadaan ini juga menimbulkan kebingungan, gimana yah cara mengajari anak membaca dalam bahasa Inggris? Jika diterusin cara belajar ABC seperti di Indonesia, anak pasti protes, karena di sekolah nggak seperti itu koq. Tapi jika di ajarin langsung dalam bahasa Inggris, dia masih berpegang dengan pengertian sebelumnya. Dan yang lebih membingungkan lagi, bahan apa untuk mengajarinya dan bagaimana caranya? Kadang-kadang, dengan studi kita yang telah menelan seluruh waktu kita, hal-hal seperti ini bukan menjadi prioritas. “Let’s buy a book, and just give it to the kids..!” Masalahnya, membeli buku yang tepat di sini bukan perkara gampang. Saya benar-benar buta dengan kurikulum, bahan ajar, penerbit dan buku-buku untuk Primary School di Perth! Masalahnya juga, buku tidak akan bisa berbicara sendiri, dan jika kita melakukan hal itu, berarti kita setengah memaksa anak kita untuk meta-learning! Jangankan bisa memahami teori untuk belajar membaca, hahaha..membaca saja belum bisa koq!

Banyak bahan-bahan rujukan yang mudah dilayari online dan percuma, bentuk aktiviti bersesuaian mengikut umur serta minat anak anda yang akan dapat membantu. Pastikan aktiviti yang dipilih adalah bagi tujuan anak anda belajar mengenali nama dan sebutan huruf dalam abjad sahaja dulu (bukan aktiviti rangkaian lagu-lagu ABC Phonics).  Sila layari laman-laman seperti contoh dibawah;


So, I decided to figure this things out! Saya mulai baca-baca sana sini dan browsing-browsing ini itu. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan cara dan bahan yang menurut saya cukup ideal untuk dibelajarkan kepada anak-anak. Kuncinya adalah PHONICS! Inilah metoda belajar membaca bagi English Speaking children. Dengan Phonics, anak-anak diajarkan mengucapkan alfabet menurut bunyinya, misalnya ‘C’ bukan diucapkan ‘si’ tetapi ‘keh..’, ‘G’ bukan dibunyikan ‘ji’ tetapi ‘geh’. Setelah mengenal bunyi huruf, anak-anak akan dikenalkan dengan bentuk-bentuk kata yang berpola, semisal “short vowel”, “long vowel”, “r control”, dsb dsb. Tentu saja teorinya tidak perlu di baca oleh anak-anak, mereka tinggal mengikuti contoh-contoh yang sudah di susun sistematis. Mirip metoda IQRA! Luar biasa, tiba-tiba saja anak sudah bisa mengenali pola bunyi dan …bisa membaca! Persis seperti anak-anak yang belajar membaca huruf Arab dengan metoda Iqra!
We included studies that use randomisation, quasi‐randomisation, or minimisation to allocate participants to either a phonics intervention group (phonics alone, phonics and phoneme awareness training, or phonics and irregular word reading training) or a control group (no training or alternative training, such as maths). Participants were English‐speaking children, adolescents, or adults whose word reading was below the level expected for their age for no known reason (that is, they had adequate attention and no known physical, neurological, or psychological problems).
A final point about letter-name knowledge: it is often noted that letter-name knowledge in preschool and kindergarten is a strong predictor of children’s later literacy achievement. This is true, but it is not because letter-name knowledge is an even-close-to-sufficient contributor to actual reading or writing. It is helpful, but some children learn to read knowing only letter sounds—no letter names. The predictive power of letter names lies largely in the fact that it is a proxy for other things. Children who know letter names early are more likely to have experienced a substantial emphasis on print literacy in the home and to have attended a strong preschool, for example, which in turn increase the likelihood of higher later reading and writing achievement. Naming letters is only one facet of letter knowledge, and probably not even the most important one. It is the application of letter-sound knowledge that advances children’s reading and spelling.

Simplistic, broad generalizations or “rules” do not work. For example, if we say that silent e signals a long vowel sound all the time, then we have a lot of issues. But if the generalization is made more specific, it is more applicable. For example, the silent e pattern is consistent more than 75 percent of the time in a_e, i_e, o_e, and u_e, but only consistent 16 percent of the time with e_e.
Jaman suami pertama beli buku-buku ini yaitu 8 tahun lalu, belum ada versi audionya, jadi waktu itu saya yg kebetulan dah punya sedikit basic bahasa Inggris, karena kuliahnya di twinning program (lumayan bisa reading, writting, speaking bahasa Inggris secara fasih), dan tapi tetap aja plentat plentot belepotan nggak bersih bahasanya, jadi kudu super sabar belajar bersama anak-anak saya lagi, mulai dari lesson 1!! I’m serious! dan sembari mengajar, saya dikoreksi suami, mulai dari pengucapan yang benar, juga cari bahan belajar mandiri punya anak tk-sd (phonics for begginer), jaman dulu saya belum kenal you tube. Kalau sekarang lebih mudah lagi, karena banyak video belajar phonics. Tapi saran saya, stick with 1 modul dan tambahkan supplement yang bisa dimengerti si anak jika dia mengalami kesulitan belajar.
Apa artinya terhubung dengan Allah menurutmu? ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Ini topik yang sering dibicarakan, tapi pernah nggak kita bertanya, juga, seperti apa sih? Saya juga iya punya tanya yang sama. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Apa artinya connection itu? ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Bagaimana kita tahu ketika kita terhubung dengan Allah. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Ada nggak tanda, atau rasa, yang kita alami ketika kita terhubung dengan Allah SWT? ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Saya share apa artinya buat saya di comment bawah ya.. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Dan buat kamu? apa menurutmu arti terhubung dengan Allah? 									

Privat Edukasi Anak PAUD - Privat Edukasi Anak TK - dan Privat Edukasi Anak SD Kelas 1. Dapatkan math worksheets, alphabet worksheets, phonics worksheets, dot to dots worksheets, cut and paste worksheets, science worksheets, tracing worksheets, maze and puzzles worksheets, brain teasers worksheets, coloring worksheets, drawing lessons worksheets, stories for kids, fun school clipart gratis.
The goal of phonics is to enable beginning readers to decode new written words by sounding them out, or, in phonics terms, blending the sound-spelling patterns. Since it focuses on the spoken and written units within words, phonics is a sublexical approach and, as a result, is often contrasted with whole language, a word-level-up philosophy for teaching reading.
Kami menemui 11 kajian yang menepati kehendak ulasan ini. Kajian ini melibatkan 736 respoden. Jumlah bukti untuk setiap kemahiran literasi adalah pebagai, iaitu kira‐kira 10 kajian untuk ketepatan membaca perkataan dan hanya satu kajian untuk kefasihan membaca nonword atau ‘bukan kata benar’ ( huruf yang disusun untuk membentuk perkataan yang tidak wujud).

Scope and sequence is also important because it helps children to organize information into cognitive categories, or “file folders,” that support better cognitive storage and retrieval of information. For example, if one teaches information without a scope and sequence, one might move from teaching the short a sound in a consonant-vowel-consonant (CVC) pattern (e.g., bag), to teaching the vowel digraph oa (e.g., boat), to teaching ch (e.g., chip), to teaching i_e (e.g., bike). It would be a lot easier to remember these patterns if they were taught in groups: for example, teaching all the short vowel sounds (a, e, i, o, and u), consonant digraphs that represent unique sounds (th, sh, ch), all the CVC-e (silent e) patterns (mate, Pete, bike, note, cute), and then both of the spelling patterns that represent the /oi/ sound (called a diphthong; oy and oi). If instruction follows a scope and sequence, the variations don’t seem random but rather work to form a category (e.g., “Oh this th is kind of like the ch, two letters that make a new consonant sound”).
More recently, with the appointment of the academic Jean-Michel Blanquer as minister of education, the ministry created a science educational council[66] chaired by Dehaene. This council openly supported phonics. On April 2018, the minister issued a set of four guiding documents[67] for early teaching of reading and mathematics and a booklet[68] detailing phonics recommendations. Teachers unions and a few educationalists were very critical of his stances,[69] and classified his perspective as "traditionalist", trying to bring the debate to the political sphere. But Blanquer has openly declared that the so-called mixed approach is no serious choice[70].
ADA TAHAPAN ANAK BISA MEMBACA SETELAH KENAL HURUF (SUKU KATA) JADI....TIDAK OTOMATIS BISA BACA Mungkin kita berpikir jika anak sudah tahu huruf a sampai z atau sudah kenal suku kata berarti dia sudah bisa baca.. Eit..tunggu dulu ya.. Jika kita berpikir demikian maka, sakit hatilah yg didapatkan ketika anak kita sudah hafal huruf dan kenal suku kata ternyata ketika disodorkan buku kepadanya dia belum bisa membaca..bisa2 kita salahkan media belajar membacanya.. Sabar ya... Ada tahapannya seorang anak dapat menguasai ketrampilan membaca, dan pembimbing/orang tua wajib mengetahui ini. Yaitu : 1. Setelah anak hafal semua suku kata, maka ajari dia teknik membaca yaitu dg menjejerkan kartu. Jadi, SALAH BESAR jika meyakini anak yg telah mengetahui suku kata akan otomatis tahu cara membacanya. Teknik membaca bisa diajarkan melalui teknik jejer kartu. Dimulai dg yg mudah dulu (2 kartu), lalu meningkat menjadi 3 kartu (membentuk kalimat). 2. Setelah anak mahir membaca dg teknik jejer kartu, baru kenalkan buku. Carilah buku yg penyusunannya sistematis, dan memahami level kesulitan anak serta perhatikan cara penyajian buku tsb, apakah pantas digunakan utk pemula? Anak2 tertentu, akan menolak buku (umumnya ketika usia di bawah 6 atau 7 tahun). Sebab, dalam satu halaman buku memuat terlalu banyak simbol abstrak (huruf) yg membuat anak susah fokus dan terbebani. Namun beban ini, akan berkurang seiring dg meningkatnya usia anak. Semakin matang seorang anak, semakin siap dia belajar membaca bahkan mampu beralih dari flashcard ke buku belajar membaca. Jadi utk sampai pada tahapan bisa membaca sendiri ada tahapannya. Begitu jg dg kemampuan menulis (bukan menebalkan huruf, tapi menulis tanpa menyontek), yg tidak otomatis dikuasai oleh anak yg bisa membaca (pemula). Kalopun ada sebagian anak yg mampu, jumlahnya sangat kecil. Karena utk sampai pada tahapan bisa menulis, anak harus dapat "memvisualisasikan" tulisan atau huruf2 yg terlibat dalam kata dan tahu cara menulisnya. Sumber : Diena Ulfaty, founder, owner & produsen ABACA Flashcard Repost: Bunda Rovi' Nur A minat order Abaca hubungi: #WA  085878491586
On 30 November 2004 Brendan Nelson, Minister for Education, Science and Training, established a National Inquiry into the Teaching of Literacy. The Inquiry examined the way reading is taught in schools, as well as the effectiveness of teacher education courses in preparing teachers for reading instruction. The first two recommendations of the Inquiry make clear the Committee's conviction about the need to base the teaching of reading on evidence and the importance of teaching systematic, explicit phonics within an integrated approach.[43]

Phonics instruction should be explicit rather than implicit. Implicit instruction relies on readers "discovering" clues about sound-spelling relationships; good readers can do this, but poor readers are not likely to do so. Explicit instruction is the most effective type of phonics instruction, especially for children at risk for reading difficulties.
×