4. See, for example, Heidi Anne E. Mesmer, Letter Lessons and First Words (Portsmouth, NH: Heinemann, forthcoming); Donald R. Bear et al., Words Their Way: Word Study for Phonics, Vocabulary, and Spelling Instruction (New York: Pearson, 2015); and Sharon Walpole and Michael C. McKenna, How to Plan Differentiated Reading Instruction (New York: Guilford Press, 2017).

Mrs. Tracy Liu adalah ibu dari 2 anak. Setelah lulus dari universitas Nankai dengan jurusan bahasa Inggris, dia telah bekerja di beberapa perusahaan internasional untuk berbagai peran dari jurnalis, sales, marketing hingga ke posisi senior manajemen. Dia pernah tinggal di Beijing, Shanghai, Paris, dan Hong Kong bersama dengan keluarganya. Saat ini dia hidup di Shanghai, dengan bekerja paruh waktu untuk merawat seorang putra berumur 11 tahun dan seorang putri berumur 6 tahun, dan separuh waktunya digunakan untuk bekerja menulis artikel orang tua di blogs dan forum orang tua. Pengalaman pribadi dan latar belakangnya telah mengajarkan dirinya pengertian yang mendalam mengenai kebudayaan Barat dan Timur mengenai pendidikan dan perkembangan anak-anak dan remaja. Dia memiliki kepercayaan yang mendalam bahwa setiap anak memiliki pemahaman dan pemikiran mereka sendiri, dan pekerjaan kita sebagai orang tua adalah untuk mengkultivasi dan menemukan metode yang bekerja untuk mendorong perkembangan yang sehat kepada masing-masing individu dan di dalam masyarakat.
In November 2010, a government white paper contained plans to train all primary school teachers in phonics.[38] In 2018, The Office for Standards in Education, Children’s Services and Skills (Ofsted), as part of its curriculum research has produced a YouTube video on Early Reading. It states "It is absolutely essential that every child master the phonic code as quickly as possible ... So, successful schools firstly teach phonics first, fast and furious." [39]
Recently, the National Reading Panel, composed of experts in the field of literacy, was asked by the United States Congress to examine the research on the teaching of reading. A subgroup of the National Reading Panel reviewed 38 studies to determine what the research says about the teaching of phonics. To ensure the soundness of its findings, the National Reading Panel chose to review only studies that met rigorous criteria for research studies.
Penelitian eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas metode Jolly Phonics untuk menstimulasi kemampuan kesiapan membaca anak usia dini. Subjek berjumlah 28 siswa yang duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Evaluasi berupa pretest dan posttest mengenal huruf, dengan indikator kemampuan mengidentifikasi huruf dan kemampuan menyebutkan bunyi huruf. Perbedaan skor dianalisis menggunakan teknik statistik paired sample t test. Hasil penelitian disimpulkan metode Jolly Phonics efektif untuk menstimulasikesiapan membaca anak usia dini. Kata-
Model ini akhirnya belajar membaca 6.000 kata-kata, mengucapkan dengan benar dan menghitung arti dari hampir semua dari mereka. Berdasarkan hasil, itu dicapai ini tidak dengan mengandalkan hanya pada satu pendekatan untuk membaca, tetapi dengan menggabungkan dua untuk mengasah dalam pada makna yang jauh lebih cepat. Keseimbangan ini, bagaimanapun, sebagai pembaca bergeser menjadi lebih terampil.
Some people think that teaching letter names is essentially teaching their sounds, but unfortunately that is not the case in English. Some letter names don’t have a sound commonly associated with the letter at all. Neither Hh, Ww, nor Yy has its commonly associated sound in its name (e.g., there is no /h/, as in happy, in the name of the letter Hh (“aych”)). Knowing these letters’ names definitely does not lead children to know their associated sounds. Some other letters’ names contain one of the sounds commonly associated with the name but not the other. For example, Cc has one of its common sounds in its name (/s/) but not the other (/k/).
Banyak bahan-bahan rujukan yang mudah dilayari online dan percuma, bentuk aktiviti bersesuaian mengikut umur serta minat anak anda yang akan dapat membantu. Pastikan aktiviti yang dipilih adalah bagi tujuan anak anda belajar mengenali nama dan sebutan huruf dalam abjad sahaja dulu (bukan aktiviti rangkaian lagu-lagu ABC Phonics).  Sila layari laman-laman seperti contoh dibawah;
Jika Anda sudah memiliki cukup banyak program "quick fix" lainnya yang menjanjikan hasil yang mudah - program yang menampung bayi atau anak Anda di depan TV dan komputer berjam-jam, yang telah mengecewakan Anda dan anak Anda di masa lalu, dan Anda siap untuk mengajar anak Anda untuk membaca cara yang BENAR, maka ini adalah pembelajaran yang jujur ​​dan benar-benar efektif untuk membaca solusi yang telah Anda telusuri
Emak2 itu suka dilema, dan kadang mengambil keputusan buruk karena tidak mau ambil resiko. Contoh nih kalo liat kerjaan rumah yang numpuk belum lagi berantakan dimana2, eh tiba2 anak2 mau bantuin tuh bikin dilema banget. Gimana ngga? Klo anak2 ikut bantuin mereka bisa sekalian belajar tp nantinya bukannya cepet selesai malah tambah lama dan kurang oke hasilnya. Padahal perbuatan semacam itu, bikin anak2 malah akhirnya malas membantu. Karena sering dilarang sih.
Itulah cara mengajarkan anak membaca 3 huruf dalam bahasa inggris. Nanti saya juga akan menjelaskan bagaimana mengajarkan anak mengenal sight words dan early grammar kepada anak ya mom. Jika, ada yang mommy belom mengerti atau ingin tahu lebih jelas dapat memberi komentar yah mom . Jangan lupa share ya jika menurut mommy artikel ini sangat membantu dan berguna agar, mommy  yang lain juga tahu bagaimana mengajarkan anak mereka membaca menggunakan phonic sound.
The complexities of letter names in English might lead you to think we should not teach letter names at all, but research suggests that teaching letter names is still worthwhile7—it just needs to be accompanied by lots of attention to the sound or sounds commonly associated with each letter and by a thorough understanding of the challenges posed by English letter names. A teacher with such knowledge would understand, for example, why a young child might spell the word daisy as WAZ. Why? Sometimes children write “W” for the /d/ sound because the letter name for Ww—“double-u”—begins with the /d/ sound. The next sound we hear in daisy is the letter name for Aa (the long a sound), and the third and fourth sounds in daisy are the name of the letter Zz (“zee”).
^ "National Reading Panel (NRP) – Publications and Materials – Summary Report". National Institute of Child Health and Human Development. (2000). Report of the National Reading Panel. Teaching children to read: An evidence-based assessment of the scientific research literature on reading and its implications for reading instruction (NIH Publication No. 00-4769). Washington, DC: U.S. Government Printing Office. 2000. Archived from the original on 2010-06-10.
KARNA ABACA, TENGAH MALAM TERBANGUN, APA-APAAN INI ?? Cuman ada di ABACA nih yang kayak gini... Karna ABACA, anak-anak belajar jadi semudah bermain, belajarnya bikin ketagihan.. Kok bisa ya ?? Ya bisa, dengan ABACA anak tidak sadar kalau sedang belajar, yang mereka tahu sedang bermain dan bermain.. Sampai-sampai Lala (2,5 tahun) tengah malam terbangun hanya karna mau main ABACA.. Keren kaan ?? Keren apanya kalau ganggu tidur malam gitu... Eitttss, jangan salah ya Bun, dengan ABACA, Lala putri Bunda Yuni ini jadi termotivasi belajar, jadi cinta dan pengen belajar terus, dia merasa belajar itu asyik, enjoy, gampang sampai bikin dia kecanduan. Padahal biasanya anak-anak itu paling susah lho diajak/disuruh belajar.. Kalau dari kecil dia sudah terstimulasi dan merasa bahwa belajar itu fun, asyik, happy dll itu bisa bermanfaat buat masa depannya nanti. Ortu mana sih yang gak senang lihat anaknya rajin belajar tanpa paksaan?? Apa ga bosan nantinya kalau dari kecil belajar terus?? Bosan itu bukan karena dia dari kecil belajar terus ya Bun.. Bosan itu kalau MEDIA BELAJAR NYA GA TEPAT, PENDAMPING/GURU NYA GA SABARAN/KURANG TELATEN.. Selama media belajar nya TEPAT dan OKE, pendamping nya juga OKE, bisa bikin anak rajin belajar terus, rasa ingin tahu nya akan muncul terus.. Nah, media belajar yang TEPAT dan OKE nya tuh yang susah, apalagi kalau anak sudah gede.. Tenang Bun, ABACA tidak hanya untuk anak usia PAUD dan TK aja kok, nantinya ABACA juga akan menerbitkan produk-produk untuk anak usia SD, SMP, dan SMA, sabar ya Bun.. Doain juga donk biar ABACA seri-seri lainnya cepat terbit, OK.. Nabung dulu ya sekarang, hihi.. demi anak biar fun belajarnya, ga bikin bosan dan stress.. By bunda Halimah Masjhur ABACA TIDAK DIJUAL DI TOKO BUKU/MAINAN. More info, pemesanan, konsultasi : Agen Resmi Abaca Flashcard 085878491586
In point of fact, letter-sound information amalgamates the word’s units into memory better than any other process. When we teach high-frequency words, we need to fully analyze the letter-sound relationships within them, whether the word is comprised of expected letter-sound relationships, as in can (/k/, /a/, and /n/, just as we would expect); some expected and some unexpected letter-sound relationships, as in said (/s/ and /d/ are as expected, /ai/ would normally represent the long a, not the short e, sound); or entirely unexpected letter-sound relationships, such as of (/uv/). Nearly two-thirds of high-frequency words are actually very regular (e.g., at, in, it), but even with those that are not, we need to fully analyze the letter-sound relationships as well as read them accurately many times. We suggest studying each letter’s association with each sound, relating the word to other words with the same letter-sound patterns when possible (e.g., no, go, so), and teaching high-frequency words alongside meaningful words (e.g., like with bike).

Kajian selanjutnya dalam latihan fonik perlu memperbaiki cara laporan prosedur pengagihan peserta kepada kumpulan dan bagaimana pengkaji memastikan peserta tidak tahu bahawa mereka dalam kumpulan ‘eksperimen’ atau kumpulan ‘kawalan.‘ Kajian juga perlu melaporkan dengan jelas tentang bagaimana pengkaji memastikan mereka yang mengukur kemajuan membaca kanak‐kanak tidak tahu samada mereka dalam kumpulan latihan fonik atau tidak.


As well as working through the alphabet, and the sounds that each letter makes, Reading Eggs also includes lessons on phonics skills such as working with beginning and end blends of letters, the variety of sounds that vowels make, diphthongs, consonant letter sounds such as soft c, g, and y, silent letters, double letter sounds, word families, and how to work through words with more than one syllable.
Synthetic phonics, also known as blended phonics, is a method employed to teach children to read by blending the English sounds to form words. This method involves learning how letters or letter groups represent individual sounds, and that those sounds are blended to form a word. For example, shrouds would be read by pronouncing the sounds for each spelling "/ʃ, r, aʊ, d, z/" and then blending those sounds orally to produce a spoken word, "/ʃraʊdz/." The goal of either a blended phonics or synthetic phonics instructional programme is that students identify the sound-symbol correspondences and blend their phonemes automatically. Since 2005, synthetic phonics has become the accepted method of teaching reading (by phonics instruction) in the United Kingdom and Australia. In the US, a pilot programme using the Core Knowledge Early Literacy programme that used this type of phonics approach showed significantly higher results in K-3 reading compared with comparison schools.[14]
Spelling, including invented spelling, is an excellent way to instruct and reinforce letter-sound knowledge and phoneme awareness and to establish secure orthographic representations (sight words).  Teachers must provide corrective feedback to ensure the learning of accurate spelling in order to help establish those words in long-term memory for reading.
ADA TAHAPAN ANAK BISA MEMBACA SETELAH KENAL HURUF (SUKU KATA) JADI....TIDAK OTOMATIS BISA BACA Mungkin kita berpikir jika anak sudah tahu huruf a sampai z atau sudah kenal suku kata berarti dia sudah bisa baca.. Eit..tunggu dulu ya.. Jika kita berpikir demikian maka, sakit hatilah yg didapatkan ketika anak kita sudah hafal huruf dan kenal suku kata ternyata ketika disodorkan buku kepadanya dia belum bisa membaca..bisa2 kita salahkan media belajar membacanya.. Sabar ya... Ada tahapannya seorang anak dapat menguasai ketrampilan membaca, dan pembimbing/orang tua wajib mengetahui ini. Yaitu : 1. Setelah anak hafal semua suku kata, maka ajari dia teknik membaca yaitu dg menjejerkan kartu. Jadi, SALAH BESAR jika meyakini anak yg telah mengetahui suku kata akan otomatis tahu cara membacanya. Teknik membaca bisa diajarkan melalui teknik jejer kartu. Dimulai dg yg mudah dulu (2 kartu), lalu meningkat menjadi 3 kartu (membentuk kalimat). 2. Setelah anak mahir membaca dg teknik jejer kartu, baru kenalkan buku. Carilah buku yg penyusunannya sistematis, dan memahami level kesulitan anak serta perhatikan cara penyajian buku tsb, apakah pantas digunakan utk pemula? Anak2 tertentu, akan menolak buku (umumnya ketika usia di bawah 6 atau 7 tahun). Sebab, dalam satu halaman buku memuat terlalu banyak simbol abstrak (huruf) yg membuat anak susah fokus dan terbebani. Namun beban ini, akan berkurang seiring dg meningkatnya usia anak. Semakin matang seorang anak, semakin siap dia belajar membaca bahkan mampu beralih dari flashcard ke buku belajar membaca. Jadi utk sampai pada tahapan bisa membaca sendiri ada tahapannya. Begitu jg dg kemampuan menulis (bukan menebalkan huruf, tapi menulis tanpa menyontek), yg tidak otomatis dikuasai oleh anak yg bisa membaca (pemula). Kalopun ada sebagian anak yg mampu, jumlahnya sangat kecil. Karena utk sampai pada tahapan bisa menulis, anak harus dapat "memvisualisasikan" tulisan atau huruf2 yg terlibat dalam kata dan tahu cara menulisnya. Sumber : Diena Ulfaty, founder, owner & produsen ABACA Flashcard Repost: Bunda Rovi' Nur A minat order Abaca hubungi: #WA  085878491586
A good phonics lesson begins with an explicit explanation of the sound-spelling being taught along with guided opportunities for students to blend, or sound out, words using the new sound-spelling. These exercises should be followed by guided and independent reading practice in text that contains words with the new sound-spelling. This portion of phonics instruction is key. Therefore, phonics instruction should focus on applying learned sound-spelling relationships to actual reading, with smaller amounts of time spent on the initial task of learning phonics rules. That way, you can plan phonics lessons that are appropriate for all students, even if some have higher levels of phonics mastery than others.
Kami menemui 11 kajian yang menepati kehendak ulasan ini. Kajian ini melibatkan 736 respoden. Jumlah bukti untuk setiap kemahiran literasi adalah pebagai, iaitu kira‐kira 10 kajian untuk ketepatan membaca perkataan dan hanya satu kajian untuk kefasihan membaca nonword atau ‘bukan kata benar’ ( huruf yang disusun untuk membentuk perkataan yang tidak wujud).

^ "National Reading Panel (NRP) – Publications and Materials – Summary Report". National Institute of Child Health and Human Development. (2000). Report of the National Reading Panel. Teaching children to read: An evidence-based assessment of the scientific research literature on reading and its implications for reading instruction (NIH Publication No. 00-4769). Washington, DC: U.S. Government Printing Office. 2000. Archived from the original on 2010-06-10.
Meskipun dana beasiswa mepet, tidak sedikit pelajar Indonesia yang memboyong keluarganya ke Perth. Bagi saya, kesempatan memperoleh pendidikan di luar negeri pada usia dini sama pentingnya dengan studi S3. Masa depan anak-anak tetaplah hal yang terpenting dalam keluarga, dan banyak teman-teman pelajar yang memaksa diri untuk belajar sekaligus bekerja supaya hal ini terwujud. It’s worth it, InsyaAllah!
4. See, for example, Heidi Anne E. Mesmer, Letter Lessons and First Words (Portsmouth, NH: Heinemann, forthcoming); Donald R. Bear et al., Words Their Way: Word Study for Phonics, Vocabulary, and Spelling Instruction (New York: Pearson, 2015); and Sharon Walpole and Michael C. McKenna, How to Plan Differentiated Reading Instruction (New York: Guilford Press, 2017).
Semangat kerjasama. Kesadaran akan pentingnya kerjasama bisa sepenuhnya dipupuk lewat olahraga tim; hal ini khususnya sangat penting bagi banyak anak tunggal. Anak-anak bisa belajar cara bekerjasama dengan orang lain, cara menggunakan keunggulan mereka dalam kelompok, serta cara memaksimalkan kepentingan tim. Dalam latihan umum dan kompetisi olahraga, anak-anak bisa memahami bahwa kepentingan kelompok berada di atas kepentingan pribadi. Mereka tak boleh bersikap egois dan mengabaikan anggota kelompok, mereka harus tahu cara mematuhi pelatih, memahami cara bertanggungjawab dengan penuh keberanian, dan berani bertanya. Anak-anak dalam lingkungan olahraga seperti ini juga akan tumbuh menjadi anak yang tahu cara menghormati orang lain dan tahu cara mendapatkan rasa hormat dari orang lain.

Aplikasi untuk menggambar adalah sebuah program gambar gratis untuk anak-anak dengan pilihan banyak baik. Anda dapat menggambar dengan pena yang berbeda, Anda dapat menempatkan perangko pada gambar Anda, membuat semua jenis efek teks, dan banyak lagi. Program ini cocok untuk anak-anak yang sangat muda dan memiliki modus anak terutama bagi mereka. Tetapi juga menyediakan banyak menyenangkan untuk anak-anak yang lebih tua. Hal ini digunakan oleh ratusan ribu anak-anak di seluruh dunia. Cara terbaik untuk melihat apa yang mungkin adalah dengan hanya men-download dan menginstalnya. Ingat, itu gratis. 
Pembelajaran bahasa asing yg paling efektif adalah dg langsung praktik, bukan pasif. Seperti bayi yang selalu diajak ngobrol oleh orangtuanya langsung. Bahkan bayi bule usia 3 tahun sudah tahu cara menerapkan tensis (penggunaan verba yg berubah dg variabel waktu) spt present tense, future tense, past tense meski ga paham grammar. Bandingkan dg anak yg belajar bahasa Inggris di sekolah, selama 3 tahun di SMP masih belum bisa bicara dalam bahasa Inggris, masih kalah dg bayi bule usia 3 tahun? Artinya pendekatan belajar bahasa asing yg dilakukan di sekolah kurang tepat karena bersifat pasif (anak tidak diajak ngobrol) shg anak2 tidak dapat mempraktikkannya.
ADA TAHAPAN ANAK BISA MEMBACA SETELAH KENAL HURUF (SUKU KATA) JADI....TIDAK OTOMATIS BISA BACA Mungkin kita berpikir jika anak sudah tahu huruf a sampai z atau sudah kenal suku kata berarti dia sudah bisa baca.. Eit..tunggu dulu ya.. Jika kita berpikir demikian maka, sakit hatilah yg didapatkan ketika anak kita sudah hafal huruf dan kenal suku kata ternyata ketika disodorkan buku kepadanya dia belum bisa membaca..bisa2 kita salahkan media belajar membacanya.. Sabar ya... Ada tahapannya seorang anak dapat menguasai ketrampilan membaca, dan pembimbing/orang tua wajib mengetahui ini. Yaitu : 1. Setelah anak hafal semua suku kata, maka ajari dia teknik membaca yaitu dg menjejerkan kartu. Jadi, SALAH BESAR jika meyakini anak yg telah mengetahui suku kata akan otomatis tahu cara membacanya. Teknik membaca bisa diajarkan melalui teknik jejer kartu. Dimulai dg yg mudah dulu (2 kartu), lalu meningkat menjadi 3 kartu (membentuk kalimat). 2. Setelah anak mahir membaca dg teknik jejer kartu, baru kenalkan buku. Carilah buku yg penyusunannya sistematis, dan memahami level kesulitan anak serta perhatikan cara penyajian buku tsb, apakah pantas digunakan utk pemula? Anak2 tertentu, akan menolak buku (umumnya ketika usia di bawah 6 atau 7 tahun). Sebab, dalam satu halaman buku memuat terlalu banyak simbol abstrak (huruf) yg membuat anak susah fokus dan terbebani. Namun beban ini, akan berkurang seiring dg meningkatnya usia anak. Semakin matang seorang anak, semakin siap dia belajar membaca bahkan mampu beralih dari flashcard ke buku belajar membaca. Jadi utk sampai pada tahapan bisa membaca sendiri ada tahapannya. Begitu jg dg kemampuan menulis (bukan menebalkan huruf, tapi menulis tanpa menyontek), yg tidak otomatis dikuasai oleh anak yg bisa membaca (pemula). Kalopun ada sebagian anak yg mampu, jumlahnya sangat kecil. Karena utk sampai pada tahapan bisa menulis, anak harus dapat "memvisualisasikan" tulisan atau huruf2 yg terlibat dalam kata dan tahu cara menulisnya. Sumber : Diena Ulfaty, founder, owner & produsen ABACA Flashcard Repost: Bunda Rovi' Nur A minat order Abaca hubungi: #WA  085878491586
×